Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar.

Posted by hery | Info Lukis | Saturday 27 February 2010 3:43 am

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif.

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa.

Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Rata-rata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan

Belajar Melukis Kreativitas Anak

Posted by admin | Info Lukis | Saturday 27 February 2010 3:07 am

Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar, mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Gambar-gambar yang mereka hasilkan menunjukkan tingkat kreativitas masing-masing anak.

Orang tua yang peduli dengan perkembangan kreativitas putra-putrinya biasanya akan mengikutkan mereka les lukis, kursus melukis sejak dini. Semakin muda usia anak, semakin mudah diarahkan.

Menurut pelukis senior sekaligus pengajar lukis Asri Nugroho, usia yang paling baik bagi anak untuk belajar melukis adalah empat tahun. Pada masa tersebut, anak-anak paling suka bermain-main. Karena itu, gambar-gambar kartun yang mereka hasilkan bisa beragam, bergantung kesukaan masing-masing anak. “Ketika anak usia empat tahun belajar melukis atau kursus melukis , mereka harus dibiarkan dan terus dipuji. Tindakan tersebut bisa memancing kreativitas dia,” ujarnya.

Memasuki usia sekolah dasar, gambar yang dihasilkan mulai berbentuk. Pada usia 11 sampai 12 tahun, fantasi anak yang dituangkan dalam gambar lebih terlihat. “Bisa dibilang, pada usia ini, gambar kartun mereka itu sedang bagus-bagusnya,” kata pelukis yang tinggal di Perumahan Gunung Sari Indah tersebut.

Untuk itu, ketika menginjak bangku SMP, sebisanya anak tidak menghentikan aktivitas les lukis. “Karena di usia ini, gambar mereka sudah mulai terarah. Kalau diseriusi, dia bisa menjadi pelukis hebat,” lanjut Asri.

Soal jadwal di sanggar lukis, Asri menyarankan paling baik seminggu sekali bagi para pemula. Jika mulai mahir, porsi les menggambar di sanggar lukis bisa ditingkatkan menjadi dua kali seminggu. “Bisa saja sampai tiga kali seminggu kalau dia memang benar-benar ingin menjadi pelukis profesional,” jelas ayah dua anak itu.

Selain jadwal melukis, yang perlu diperhatikan adalah peralatan melukis. Menurut Asri, saat ini ada banyak alternatif peralatan melukis. Namun, yang paling tepat bagi anak-anak usia TK hingga SD adalah krayon atau pensil warna. ”Karena mereka belum tahu materi dan sifat dari peralatan menggambar tersebut,” terang pelukis yang selalu mengucir rambutnya itu. Penggunaan cat air lebih disarankan bagi mereka yang sudah menginjak bangku SMP.

Menggambar, lanjut Asri, memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaat yang paling terlihat adalah membantu mengembangkan fungsi otak kanan. ”Kalau sejak dini sudah belajar menggambar, perkembangan otak kanannya juga cepat sehingga kreativitasnya bisa berkembang dengan baik,” imbuh Asri.

Salah satu orang tua metropolis yang peduli dengan perkembangan kreativitas anaknya adalah Eny Yuniastuti. Putri Eny yang kini berusia delapan tahun bisa menggambar dengan apik hanya dalam waktu singkat.

http://www.jawapos.co.id

Melukis Dapat Meningkatkan Kecerdasan Anak

Posted by admin | Info Lukis | Saturday 27 February 2010 2:57 am

Buk…  buku gambar Syavira di mana?,” teriak Syavira kepada ibunya. “Buku gambarnya habis, Syavira beli dulu ya di toko sebelah,” jawab Ibu Syavira. Nah, saking seringnya menggambar, Syavira sering menghabiskan buku gambarnya untuk menggambar atau melukis. Syavira ini merupakan salah satu dari teman adik-adik yang gemar menggambar.

Dengan melukis ternyata dapat meningkatkan kecerdasan pada seorang anak lho? Seperti yang telah diungkapkan oleh Nanik Prihartanti, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Ibu Nanik menyampaikan bahwa dengan menggambar atau melukis dapat meningkatkan kreativitas anak. “Kalau anak tersebut dibebaskan untuk berkreasi, maka dengan menggambar atau menulis dapat mengasah jiwa kreativitas anak,” papar Ibu Nanik saat ditemui Joglosemar beberapa waktu yang lalu.
Jadi janganlah ketika orangtua kita sering mengajari untuk menggambar rumah, gunung serta pemandangan yang lain. Ternyata hal tersebut sangat membantu perkembangan adik-adik.
Karena dengan belajar menggambar tak hanya mengasah otak kiri tetapi juga otak kanan. Bahkan aspek emosional pun dapat diasah melalui coretan di kertas.
“Kalau anak itu selalu memiliki inisiatif untuk menggambar, serta selalu berkreasi maka membuktikan bahwa anak tersebut memiliki jiwa kreatif yang tinggi,” imbuh Ibu Nanik.

Ibu Nanik menambahkan bahwa selain melatih kekreatifan, menggambar atau menulis juga dapat melatih kemampuan verbal pada diri anak. Apalagi kalau setelah menggambar atau melukis, anak-anak dapat menceritakan apa yang telah digambarnya tersebut. “Dengan dibiasakan untuk menceritakan apa makna dari karyanya, maka hal tersebut dapat menumbuhkan kemampuan tersendiri pada diri anak,” tambah Ibu Nanik.
Yang Dipikirkan
Secara psikologis apa yang digambar atau apa yang telah dilukis oleh anak tersebut merupakan apa yang sedang dipikirkan oleh seorang anak. Biasanya anak lebih suka melukis kondisi keluarga serta harapan-harapan yang diinginkan yang disimbolkan lewat gambar atau lukisan.
“Jika suasana hati anak tersebut senang, maka dia juga akan menghasilkan gambar yang menandakan bahwa hatinya sedang senang. Namun jika kondisi sebaliknya, maka anak juga akan menghasilkan gambar dengan simbol-simbol kesedihan,” ujar Ibu Nanik.
Tak hanya itu melalui lukisan dapat menjadi alat untuk berkomunikasi antara anak dengan orang lain. “Gambar dapat menjadi alat komunikasi bagi mereka yang secara verbal memiliki keterbatasan,” terang Ibu Nanik.


Ibu Nanik menjelaskan, jika terdapat seorang anak yang sedang menggambar atau melukis, namun hasilnya kurang baik, maka sebagai orangtua dilarang untuk menjelek-jelekkan. “Walaupun karya anak itu jelek, namun tidak ada salahnya kalau kita memuji karya anak tersebut, supaya besok termotivasi untuk menjadi lebih bagus,” tegasnya.
Dengan pujian tersebut, maka sang anak akan menjadi termotivasi dan tentunya akan berkarya supaya menjadi yang lebih baik. Selain itu, melalui sikap ini juga dapat membantu anak untuk menanamkan sikap menghargai.
Selain mempengaruhi aspek psikologis, melukis atau menggambar dapat mempengaruhi aspek motorik anak. Ketika melukis atau menggambar mebutuhkan gerak seperti gerak tangan dengan memadukan  indera pendengaran serta emosi perasaan. Sehingga dengan gerak tersebut dapat melatih motorik anak untuk tetap berkembang.
Selain menggambar atau melukis, anak juga dapat melatih syaraf motoriknya dengan mewarnai. “Jika seorang anak sudah baik dalam hal mewarnai maka perkembangan motorik halus anak sudah baik. Namun jika mewarnai tersebut masih corat-coret berarti syaraf motorik halus belum berkembang optimal,” tambahnya.
Sehingga anak perlu dilatih sejak sedini mungkin untuk belajar berekspresi lewat sebuah gambaran atau lukisan. Orangtua  dapat menyediakan papan atau kertas yang dilengkapi dengan alat tulisnya. Dengan demikian bakat sang anak akan menjadi tersalurkan.
Kita pun dapat melihat bakat anak lewat lukisan atau gambarannya, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang cerdas tersebut, mereka juga gemar berkreasi.

Dalam Melukis, Bebaskan Anak untuk Berkreasi

Posted by admin | Info Lukis | Saturday 27 February 2010 2:50 am

Selama ini, pengajaran seni bagi anak-anak cenderung diselenggarakan dengan metode yang kurang tepat. Anak-anak hanya diajari bagaimana cara menciptakan karya seni yang bagus menurut standar baku yang telah ditetapkan oleh pengajar ataupun orang lain.

Padahal, seharusnya anak-anak diberikan kesempatan untuk menciptakan standar bagi mereka sendiri. Siapa tahu mereka bahkan mempunyai standar yang lebih tinggi daripada pengajarnya dan orang dewasa lain.

Fenomena itulah yang mendorong Yuswantoro Adi dan sejumlah seniman di Jogja untuk menggelar kegiatan Biennale Anak Jogja di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 15 hingga 22 Januari mendatang.

“Anak-anak diajari lukisan yang bagus itu seperti ini, harus begini dan sebagainya. Anak justru tidak ditanya lukisan bagus menurut mereka itu seperti apa,” tuturnya di TBY, Kamis (21/1).

Untuk itu, besok (22/1) panitia Biennale Anak Jogja akan menghadirkan sejumlah seniman yakni Djoko Pekik, Nasirun, dan Bunga Jeruk untuk sekadar melukis bersama anak-anak mulai pukul 14.00 WIB di TBY.

“Kegiatan ini akan menjadi hal yang menarik bagi anak-anak karena berkesempatan untuk melukis dengan seniman hebat seperti Djoko Pekik, Nasirun, dan Bunga Jeruk. Selain itu, ini pasti juga akan menjadi pengalaman bagi para seniman untuk melukis bersama anak-anak,” tambahnya.

Gagasan Biennale Anak sendiri muncul karena keprihatinan seniman Jogja terhadap perkembangan seni di kalangan anak-anak. Contohnya pada sejumlah lomba melukis anak-anak yang pada hasilnya cenderung seragam dan baku. Idealnya, anak-anak diberikan kebebasan penuh untuk berekpresi sesuai dengan ide dan kreatifitas anak-anak.

MENGENAL ALAT DAN BAHAN MELUKIS DENGAN CAT MINYAK

Posted by hery | Info Lukis | Monday 22 February 2010 11:57 pm

Cat Minyak

Cat Minyak merupakan gabungan antara zat pewarna dengan minyak pengering.jadi cat minyak ini di encerkan dengan minyak khusus yang sering disebut oil/ minyak cat. Untuk jenis cat minyak ada banyak pilihan yang dapat kita pilih dan sudah siap pakai.

 

Oil / Minyak cat


Fungsi bahan minyak cat ini adalah untuk mengencerkan cat minyak. Untuk mengatur keadaan cat minyak dalam posisi encer atau tidak di tentukan banyak sedikitnya penggunaan minyak cat ini.

Kuas

Kuas merupakan alat yang di gunakan untuk menguas/menuangkan cat ke media lukis.jenis dan bentuk kuas banyak tersedia dari bentuknya,ukurannya.Pemilihan kuas tergantung dari goresan yang bagaimana yang akan kita inginkan.Jenis kuas ada yang pipih ada juga yang bullet pada ujung kuasnya.

Palet

Palet adalah alat yang digunakan untukl tempat mencampur cat.jenis dan ukuran palet juga banyak tersedia berbagai ukuran.Palet ini fungsinya untuk mempermudah dalam pencampuran warna dan keteraturan letak cat memudahkan pengambilan cat, ini berkaitan dengan posisi cat pada palet.

 

Pisau Palet

Adapun fungsi dari pisau palet ini adalah untuk mencampur cat dipalet bias juga untuk membuat efek-efek goresan pada media lukis.Untuk besar kecilnya penampang pisau palet tersedia berbagai jenis, ada yang runcing ,lebat dan bulet.

Standar

Lukis cat minyak untuk mudahnya di kerjakan pada meja lukis yang di sebut standat.pada standar ini ukuran tinggi rendahnya bias di atur sesuai dengan kebutuhan yang di kehendaki.bahan dari standar ini ada yang dari kayu maupun dari almunium.

THE ASC PAINTING COMPETITION

Posted by admin | Info Lukis | Monday 22 February 2010 5:09 am

Click Here to Download ASC Anniversary Painting Competition Application Form

Pameran Karya Seni Siswa SDMuhCC

Posted by admin | Info Lukis | Monday 22 February 2010 3:23 am

Pameran Karya Siswa 2008 dibuka di SD Muh Condongcatur Yogyakarta dibuka oleh oleh Kepala Bidang TK SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. Pameran karya siswa merupakan agenda rutin sekolah yang dilaksanakan untuk menampung potensi bakat seni anak dan digunakan sebagai inovasi media-media pembelajaran serta pusat ide dan kreatifitas bagi siswa-siswi adik kelas.

Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi Pameran karya Siswa 2008 Kreativitas dan Teknologi

E-Learning : http://jogjabelajar.org/sdmuhconcat/

====================================================

Manfaat Kursus Gambar, Melukis pada Anak

Posted by admin | Info Lukis | Saturday 20 February 2010 2:55 am

Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar, mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Gambar-gambar yang mereka hasilkan menunjukkan tingkat kreativitas masing-masing anak.

Orang tua yang peduli dengan perkembangan kreativitas putra-putrinya biasanya akan mengikutkan mereka Kursus Gambar, kursus melukis sejak dini. Semakin muda usia anak, semakin mudah diarahkan.

Menurut pelukis senior sekaligus pengajar lukis Asri Nugroho, usia yang paling baik bagi anak untuk belajar melukis atau ikut kursus gambar adalah empat tahun. Pada masa tersebut, anak-anak paling suka bermain-main. Karena itu, gambar-gambar kartun yang mereka hasilkan bisa beragam, bergantung kesukaan masing-masing anak. “Ketika anak usia empat tahun belajar melukis atau kursus gambar, mereka harus dibiarkan dan terus dipuji. Tindakan tersebut bisa memancing kreativitas dia,” ujarnya.

Memasuki usia sekolah dasar, gambar yang dihasilkan mulai berbentuk. Pada usia 11 sampai 12 tahun, fantasi anak yang dituangkan dalam gambar lebih terlihat. “Bisa dibilang, pada usia ini, gambar kartun mereka itu sedang bagus-bagusnya,” kata pelukis yang tinggal di Perumahan Gunung Sari Indah tersebut.

Menurut Asri, saat ini ada banyak alternatif peralatan melukis. Namun, yang paling tepat bagi anak-anak usia TK hingga SD adalah krayon atau pensil warna. ”Karena mereka belum tahu materi dan sifat dari peralatan menggambar tersebut,” terang pelukis yang selalu mengucir rambutnya itu. Penggunaan cat air lebih disarankan bagi mereka yang sudah menginjak bangku SMP.

Menggambar atau kursus gambar, lanjut Asri, memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaat yang paling terlihat dari kursus gambar adalah membantu mengembangkan fungsi otak kanan. ”Kalau sejak dini sudah belajar menggambar dan ikut kursus gambar, perkembangan otak kanannya juga cepat sehingga kreativitasnya bisa berkembang dengan baik,” imbuh Asri.

Belajar Melukis dan Sensor Motorik Pada Anak

Posted by admin | Info Lukis | Saturday 20 February 2010 2:46 am

Sebuah masjid menyembul di tengah kehijauan pepohonan di atas bukit. Sebuah lukisan yang memberikan keteduhan bagi mata yang memandangnya. Siapa sangka karya indah itu olesan tangan seorang bocah yang pernah mengalami cedera otak?

Lebih dari 100 lukisan dipamerkan di tiga lantai di Hotel Crown Plaza Jakarta, 26 November hingga 2 Desember 2008. Yang istimewa dari pameran itu menampilkan beberapa karya polesan tangan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Lukisan berjudul Mosque itu karya Edo (13 tahun). Menurut ayah Edo, Agus B Yanuar, anaknya dilahirkan hyperbilirubin (bayi kuning), lalu penurunan butir darah merah yang berakibat cedera otak karena kekurangan pasokan oksigen. Serangkaian terapi dilakukan untuk memperbaiki sistem motorik dan mengejar keterlambatan. Salah satu terapi tambahan dipilih melalui Les Melukis.

Berkat asahan Alianto, bakat melukis Edo terkuras luar biasa. Sejak Februari 2008 hingga kini telah menuntaskan 12 lukisan, termasuk yang dipamerkan.Perjalanan Edo tak lepas dari peran serta orangtuanya. Ibu Edo, Revita Tantri tidak sekadar mendampingi Les Melukis, tapi ikut terjun langsung.

Edo mendesaknya ikut bergabung dengan sebuah Sanggar Lukis. ”Ternyata Belajar Melukis bersama anak-anak dan keluarga momen yang sangat menyenangkan,” ungkap Tantri yang kini mendirikan ‘Rumah Belajar’ sebagai arena terapi wicara, terapi okupasi, fisio terapi dan kelas melukis.Motorik halusMelukis, menurut dr Melly Budiman SpKJ, Belajar Melukis sangat bermanfaat bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Anak autis, misalnya, memiliki motorik halus yang buruk.

Dengan ikut Sanggar Melukis membuat motorik halusnya menjadi lebih baik. Manfaat lainnya, dari sisi emosi, mereka cenderung tidak terkendali. ”Dengan melukis atau ukut Kursus Melukis bisa membantu mengendalikan emosinya agar lebih terarah,” katanya acara Kasih Bunda Mengantar Pelukis Muda.

Anak-anak yang berkebutuhan khusus biasanya tidak fokus. Sepuluh menit bila hanya duduk, pasti tidak betah. Dengan Kursus Melukis, anak-anak itu dituntut fokus mengerjakan sesuatu sampai selesai, tambah Ketua Yayasan Autisma ini.Alianto salah seorang pelukis yang malang melintang…

republika.co.id

soccerine Wordpress Theme